Hari Bumi lewat, Sekretariat Himpunan Bertransformasi Menjadi Lautan Sampah.

Panas-panas tahi ayam kah? Kemana perginya semangat hari Bumi yang sedianya lewat kurang lebih sebulan ? Hilang seiring berlalunya Hari Bumi.
Doc.BIOma, Reporter: Evika Melia
Parangtambung, BIOma – Memprihatinkan, mungkin itulah kata yang tepat menggambarkan keadaan jejeran sekretariat LK Himpunan FMIPA UNM yang berada di bagian belakang kampus. Sangta Ironi, mengingat besarnya semangat para civitas himpunan ini ketika menyambut hari bumi yang telah berlalu kurang lebih sebulan. Tak hanya satu-dua sekret himpunan, pemandangan merusak mata ini nyatanya terpampang di semua bagian depan sekretariat himpunan. 

Hal ini diperparah dengan sikap acuh yang nampak diwajah-wajah pengurus LK. Ditengah hari ketika sedang asyik nongkrong sambil bercengkrama tanpa merasa terganggu sedikit pun akan“lautan sampah”. Kesadaran akan kebersihan sepertinya telah mati, berlalu seiring berlalunya Hari Bumi (22/4).

Aulia, selaku staf sekretaris Himabio (Himpunan Mahasiswa Biologi) yang ditemui Senin (5/5) di sekret Himabio, mengutarakan “Adaji jadwalnya, setiap hari ji juga dibersihkan, tapi ya itumi kalo siang kan ada lagi daun-daun yang gugur, biasaji juga disapu. Trus adaji juga itu pembersihan keseluruhan cuman memang sekali sebulanji,”.Ia juga menambahkan, semuanya tidak terlepas dari kesadaran masing-masing pengurus dalam memikul tanggung jawab.

Senada dengan Aulia, Risnawati, ketua bidang humas Himatika (Himpunan Mahasiswa Matematika) mengatakan sudah ada jadwal setiap harinya yang mengatur kebersihan sekretariat.“Tapi ituji lagi kalo bertabrakanki jadwal kuliahnya jadi biasa ada yang lupa. Maklum juga karna skarang kan masa-masa peralihan pengurus,” tambahnya. Sibuk. Satu kata yang juga dibenarkan oleh ketua Himafi, (Himpunan Mahasiswa Fisika) yang akrab disapa Fian saat ditemui di sekretariat Himafi. Ia menuturkan kelalaian kebersihan itu salah satunya dikarenakan kesibukan dari anggotanya sendiri yang akhir-akhir ini memang sedang mempersiapkan banyak event.

“Adaji juga jadwal piket, sepertiji himpunan yag lain, tapi karna sibuk akhir-akhir ini jasi ada-ada saja yang lalai,” tuturnya. Tapi setiap Sabtu-Minggu selaluji ada pembersihan massal sekret, seluruh anggota himpunan harus ikut,” tutupnya.

Salah seorang warga FMIPA mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi sekretariat Himpunan yang tidak sehat, “Harusnya ketua himpunan selaku pimpinan lebih peka pada kebersihan himpunan, kan malu kalo nanti ada kampus lain yang misalnya tiba-tiba berkunjung,” Imbuhnya.

Gunakan Kunci Ganda, Amankan Helm!

Lokasi: Area Parkir Jurusan Matematika. Reporter: Dwiyana.Ar
BIOma, Parangtambung – Pasca penangkapan pencuri motor di area parkir FMIPA UNM (9/4), pihak Birokrasi FMIPA membuat selebaran Himbauan waspada terjadinya kembali pencurian kendaraan. Baru-baru ini slogan peringatan keamanan kendaraan berupa spanduk  kini terlihat disetiap area parkir FMIPA , bertuliskan kawasan tertib parkir, gunakan kunci ganda, amankan helm.
Petugas keamanan Fakultas, Pak Anto berucap “slogan ini bisa membantu mahasiswa untuk lebih menjaga keamanan kendaraan masing-masing. Saat ini saya harus berjaga di area kampus sendirian setelah meniggalnya Alm.Dg.Sikki. jam 7 sampai jam 10 pagi saya bertugas di parkiran matematika ketika jam 10 saya berjaga di parkiran Biologi” tuturnya . Dia tidak tahu menahu memngenai penambahan petugas keamaan. 
Melihat kondisi keamanan kampus yang memprihatinkan salah seorang mahasiswa Jurusan Kimia, Joulman Cipta Anugrah berkomentar, “Slogan yang dipasang mungkin tidak berpengaruh, apalagi kadang mahasiswa menghiraukan hal seperti itu. Tinggal bagaimana keamana kampus, itu yang lebih penting. Baiknya ada pos jaga seperti di Mall, setiap ada kendaraan yang akan keluar  diperiksa STNK, atau berupa karcis”. Pernyataan ini juga dibenarkan oleh Muhammad Mustawaqqal, mahasiswa Jurusan Matematika perlu adanya inovasi penjagaan seperti pemeriksaan SIM atau STNK ketika kendaraan akan keluar dari area parkir dan juga sistem untuk mempersulit gerakan Curanmor . 

“Slogan yang ada diparkiran sebenarnya bisa cukup membantu, setidaknya ada yang mengingatkan mahasiswa untuk tetap waspada. Tapi sebenarnya kita harus lebih fokus, bagaimana mempersulit pelaku curanmor beraksi, karena se was-was bagaimanapun, mahasiswa tidak akan selalu dekat dengan kendaraannya” ungkapnya.

Budaya dan Tradisi CTRL+C Laporan.

Reporter : Halik Ma’ruf
Parangtambung, BIOma– Memasuki musim praktikum semua jurusan di FMIPA UNM tak ayalnya sering ditemukan istilah CTRL+C atau plagiat adalah budaya yang telah  mengakar di kalangan para mahasiswa saat ini, ketika mengerjakan  laporan. Seakan-akan hal tersebut adalah tradisis yang wajib dilakukan, tanpa CTRL+C laporanpun tersendak.

Banyak alasan yang menyebapkan mahasiswa hanya mengandalkan system CTRL+C ini, diantaranya keadaan ataupun waktu untuk menyetor laporan semakin dekat. keadaan ini trend dikalangan mahasiswa dengan julkan “The Power Of Kepepet”. Ketika keadaan ini menghampiri mahasiswa maka tombol termudah dalam memecahkan masalah ini adalah “CTRL+C” menjadi solusi termudah atau dapat dikatakan sebagai teman akrab mahasiswa dikala mengerjakan laporan.
Dari beberapa pengakuan narasumber yang dihimpuni, membenarkan penryataan tersebut bahwa mereka pernah melakukan atau mengopas laporan. Dengan berbagai alasan. Baik sebagai referensi maupun jalan buntu pengerjaan laporan.
Tutur salah satu mahasiswa warga Biologi Nur Mukarammah, “ copas laporan itu semua orang tau kalau itu tindakan yang tidak baik. Karena itu sama saja mencuri ide orang lain. Orang yang sudah setengah mati mengerjakan ntu laporan sudah setengah mati kerjaki, baru kita dengan santainya tinggal dicopyji”. Ia juga menambahkan bahwa untungnya dalam mengopas laporan ialah sangat membantu dalam mengerjakan laporan yang tadinya dikerjakan berjam-jam, bisa selesai hanya dalam waktu beberapa menit saja. Ruginya kalau misalnya ketahuan oleh asisten praktikum maka akibatnya akan fatal, terlebih lagi kalau laporan yang dicopas milik asiten itu sendiri.

Undang Undang Pendidikan Tinggi Telah di Sahkan.

Jakarta, 13 Juli 2012–Setidaknya ada tiga alasan mengapa Undang-Undang Pendidikan Tinggi disahkan pada bulan juli 2012. Pertama dikarenakan pada bulan Juli merupakan masa persiapan menyambut tahun akademik 2012/2013, sehingga Undang Undang Pendidikan Tinggi tersebut dapat langsung di implementasikan. Kedua terkait dengan persiapan pembuatan Rencana Kerja Pemerintah tahun 2013, maka perencanaan pengimplementasian Undang Undang Pendidikan Tinggi yang sejatinya tentu membutuhkan anggaran tersendiri akan tersinkronisasi dengan anggaran yang akan dipersiapkan pemerintah di tahun 2013. 

Terakhir mengenai selesainya masa tujuh perguruan tinggi BHMN, dengan adanya Undang-undang Pendidikan Tinggi ini, tentunya ke-tujuh BHMN tersebut akan dapat menyesuaikan dengan peraturan yang ada di Undang-Undang Pendidikan tinggi.

“ Jadi pengesahan Undang-Undang Pendidikan Tinggi pada bulan ini sudah tepat dari sisi tahun akademik, sisi tahun anggaran dan tentunya dari sisi perguruan tinggi BHMN yang akan selesai pada tahun ini “ ujar Menteri Nuh pada acara temu wartawan, sore ini (13/7) di Kemdikbud.

Tidak ingin Undang-Undang ini bernasib sama dengan Undang_undang Badan Hukum Pendidikan yang telah digugurkan oleh Makamah konsitusi (MK), pemerintah memperhatikan betul masukan yang diberikan oleh MK pada saat itu. Isu mengenai keseragaman, liberalisasi hingga komersialisasi tidak luput menjadi titik perhatian ketika menyusun undang-undang pendidikan tinggi ini, “ Jelasnya tidak ada penyeragaman pada pengelolaan perguruan tinggi, setiap perguruan tinggi dapat memilih otonomi sumber dayanya, bisa dalam bentuk satuan kerja di bawah Kemdikbud seperti Direktorat jenderal, Badan Layanan Umum (BLU) atau dalam bentuk Perguruan tinggi Berbadan Hukum “ Sambung Menteri Nuh.

Sedangkan mengenai isu liberalisme dan komersialisme, Menteri Nuh menjelaskan bahwa pesan MK pada poin tersebut merupakan dasar alasan mengapa otonomi perguruan tinggi tidak dilepas sepenuhnya “ MK berpesan agar pemerintah pusat dan daerah tetap harus bertanggung jawab terhadap pendananaan, oleh karena itu otonomi perguruan tinggi tidak kita lepas sepenuhnya tetapi tetap dengan prinsip nirlaba, hal ini dimaksudkan agar perguruan tinggi tidak terjebak pada komersialisasi “ ucapnya sembari menambahkan perguruan tinggi harus tetap memegang teguh prinsip akuntabilitas, transparan, efesiensi dan efektifitas.

Menteri Nuh melihat bahwa Undang-undang Pendidikan tinggi ini memiliki afirmasi terhadap gambaran pendidikan tinggi di Indonesia. Saat ini Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi di Indonesia baru mencapai 26 % di tahun 2011, hal ini menandakan bahwa ada 74 % sisinya dari lulusan SMA/SMK dan MA yang tidak dapat mengakses pendidikan tinggi. Salah satu alasannya adalah permasalahan ekonomi, dalam Undang-Undang Pendidikan Tinggi ini, jawaban tantangan  ekonomi tersebut telah dipersiapkan “secara eksplisit ada afirmatif  agar perguruan tinggi negeri  menyediakan bangku sebanyak 20 persen untuk anak-anak kita yang memiliki keterbatasan ekonomi. Selain itu kita pun akan mendirikan perguruan tinggi negeri paling tidak di setiap provinsi, baik dalam bentuk  universitas, institut, atau  dalam bentuk yang lain. Kita juga akan mendirikan akademik komunitas di kabupaten atau kota terutama di daerah perbatasan. Dengan upaya tersebut diharapkan lulusan SMA/SMK dan MA, bisa berbondong-bondang masuk ke komunitas akademik itu, seingga angkatan kerja kita juga meningkat” papar Menteri Nuh.

Mengenai isu perguruan tinggi asing yang disinggung dalam Undang-Undang Peguruan Tinggi ini, Menteri Nuh menjelaskan bahwa sikap pemerintah tidak sepenuhnya membuka atau menutup masuknya perguruan tinggi asing di Indonesia “ tetapi kita memiliki penseleksian yang khusus dan amat ketat” ujarnya. Lebih lanjut Menteri Nuh menjelaskan bahwa setiap perguruan tinggi asing yang akan masuk ke Indonesia haruslah terakreditasi dengan baik di negaranya kemudian harus melakukan pola kerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia, “ jadi tidak dengan serta merta diberi keleluasaan berdiri dimana saja, ada persyaratan dimana mereka bisa berdiri dan program studi apa saja yang perlu mereka tawarkan, hal ini untuk menjaga agar perguruan tinggi kita tidak terancam keberadaanya”. Jelas Nuh.

Menteri Nuh merencanakan akan terus mensosialisasikan produk undang-undang ini kepada masyarakat luas dan para pemangku kepentingan, tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman dan pengertian yang baik mengenai latar belakang dan tujuan dari Undang-Undang tersebut. Apabila ada unsur masyarakat yang ingin melakukan judicial review, Menteri Nuh tetap mempersilahkan karena dirinya memahami bahwa ini adalah sebuah dinamika “ Kalau ada yang mau men-judicial review, silahkan. Kami akan sosialisasi agar masyarakat dan pemangku kepentingan paham betul tentang konten dari undang –undang ini, tetapi harus diperhatikan betul apakah ada pasal atau yg bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Bila tidak, saya mohon tidak usah masuk Judicial Riview.”Jelas Menteri Nuh.
Adapun uu tentang perguruan tinggi yang di syahkan adalah sebagai berikut:
UU No. 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, halaman 49-50 – Paragraf 2. Jenjang Jabatan Akademik, Pasal 72 :
  • Ayat (1) Jenjang jabatan akademik Dosen tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor.
  • Ayat (3) Dosen yang telah memiliki pengalaman kerja 10 (sepuluh) tahun sebagai Dosen tetap dan memiliki publikasi ilmiah serta berpendidikan doktor atau yang sederajat, dan telah memenuhi persyaratan dapat diusulkan ke jenjang jabatan akademik profesor.
  • Ayat (4) Batas usia pensiun Dosen yang menduduki jabatan akademik profesor ditetapkan 70 (tujuh puluh) tahun dan Pemerintah memberikan tunjangan profesi serta tunjangan kehormatan.
  • Ayat (5) Menteri dapat mengangkat seseorang dengan kompetensi luar biasa pada jenjang jabatan akademik profesor atas usul Perguruan Tinggi.
  • Ayat (6) Ketentuan mengenai jenjang jabatan akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemberian tunjangan profesi serta tunjangan kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dan pengangkatan seseorang dengan kompetensi luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan Menteri.

Dari lima ayat dalam Pasal 72 yang berkaitan dengan Profesor atau Guru Besar tersebut, terdapat ketentuan yang berbeda sama sekali dengan yang sudah ada selama ini, yaitu yang berkaitan dengan usia pensiun Guru Besar. Jika ketentuan yang ada sebelumnya adalah “usia pensiun Guru Besar adalah 65 tahun dan dapat diperpanjang menjadi 70 tahun.” Pada kenyataannya, perpanjangan usia pensiun Guru Besar menjadi 70 tahun tersebut sulit untuk dilakukan mengingat persyaratan yang harus dipenuhi sangat sulit.
Dengan ketentuan baru pada pasal 72 ayat 4 dinyatakan bahwa “Batas usia pensiun Dosen yang menduduki jabatan akademik profesor ditetapkan 70 (tujuh puluh) tahun.” Hal ini berarti otomatis bagi dosen yang sudah menduduki fungsional Guru Besar baru akan pensiun pada usia 70 tahun dan tidak perlu melakukan perpanjangan ketika memasuki umur 65 tahun.
Lebih lanjut, dalam pasal 72 ayat 4 juga dinyatakan, bagi dosen yang telah menduduki fungsional Guru Besar, bahwa “Pemerintah memberikan tunjangan profesi serta tunjangan kehormatan.” Hal ini berarti otomatis bagi dosen yang sudah menduduki fungsional Guru Besar dijamin akan mendapatkan tunjangan profesi dan tunjangan kehormatan sampai dengan usia pensiun 70 tahun.

Kelas Menulis Oleh Taman Baca Biologi Menjadi Daya Tarik Mahasiswa FMIPA UNM.

Doc.BIOma

Parangtambung, BIOma– Ditengah padatnya jadwal perkuliahan mahasiswa khususnya jurusan Biologi, panitia TBB (Taman Baca Biologi) HIMABIO FMIPA UNM menyelenggarakan Kelas Menulis, Jum’at (9/14) dengan tema “Teknik Dasar Menulis” yang dibimbing oleh Dian Kurniati Padandi, salah seorang mahasiswi Jurusan Biologi FMIPA UNM eksponen 09. 

Kegiatan ini dilakukan untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam menulis Fiksi, disisi lain  bahwa  jika melihat kondisi literasi saat ini di fakultas biru sudah sangat memprihatinkan dimana seharusnya fakultas ini menjadi fakultas pelopor budaya literasi yang tinggi.
Kegiatan Teknik Dasar Menulis ini merupakan kegiatan pekan ke-3 TBB sejak komunitas ini dibentuk. Kelas menulis ini sekaligus menjadi kegiatan TBB yang paling banyak diminati oleh mahasiswa baik di Jurusan Biologi maupun jurusan lain di FMIPA. Beberapa peserta berasaldari jurusan tetangga yakni matematika. Peserta sangat antusias ketika pemateri memberikan kesempatan kepada peserta untuk membuat suatu tulisan yang menggambarkan objek kesukaannya dan membacakan hasil tulisan di depan forum menulis.
Diakhir pertemuan Dian Padandi mengungkapkan kesenangannya menulis Fiksi yang dianggap sebagai obat baginya. “jika ingin mengenal dunia maka membacalah, jika ingin dikenal dunia maka menulislah” kalimat ini mampu  menyuntik semangat para peserta. Ahmad Setiawan Jarigau selaku koordinator  TBB menungkapkan harapan dan kesannya “prospek kedepannya agar tidak mati bahkan peminat lebih banyak  dan akan dibetuk struktur kepanitiaan TBB yang lebih complete dari saat ini“. (MO/AJ)

Inaugurasi Variabel "Diverse culture for one future"

Doc BIOma
BIOma, Parangtambung- Inaugurasi mahasiswa baru jurusan matematika FMIPA UNM yang diberi nama “variabel” dihelat pada hari sabtu, 19 april 2014 di gedung SLB jln.dg tata raya dengan tema “diverse culture for one future” . Kegiatan yang hanya membutuhkan waktu 3 minggu ini, berlangsung pukul 11 siang dan dihadiri oleh mahasiswa dari jurusan Matematika, dosen jurusan matematika, pengurus LK FMIPA, Ketua maperwa FMIPA UNM, beberapa alumni jurusan matematika dan mahasiswa dari jurusan lain.

Acara ini terbagi atas dua sesi yaitu formal dan informal. Acara formal berupa opening ceremony dimeriahkan dengan tari tradisional paduppa dan tor tor, vocal group, puisi berantai dan beberapa sambutan, termasuk sambutan dari ketua jurusan matematika yang diwakili oleh salah satu dosen sekaligus membuka inaugurasi. Acara informal dimeriahkan dengan pertunjukkan sulap, akustik, puisikalisasi, teatrikal, tari pagellu adapula persembahan dari jurusan biologi. 

Menurut pengakuan dari ketua panitia inaugurasi, Muhammad adif rusdi kepanitaan dibentuk oleh dosen sekitar tiga minggu sebelum hari kegiatan. Sehubungan dengan belum adanya ketua angkatan dosen memandatkan himpunan untuk membentuk kepanitiaan. Seluruh komponen variabel yang berjumlah 164 orang terlibat dalam kepanitiaan. Untuk penampilan acara ada dua opsi berupa penampilan perkelas dan gabungan dari setiap kelas. 


Kendala yang dihadapi yaitu komunikasi antara koordinator dan anggota dan juga pendanaan. Dana Inaugurasi bersumber dari bazar makanan, playstation, kartu kawan, penggalangan dana (door to door) dan bantuan dana dari HIMATIKA. Rusdi berharap “untuk inaugurasi selanjutnya diharapkan kepanitiaan dibentuk satu semester sebelum kegiatan berlangsung agar pendaaan dan pelatihan setiap acara lebih bagus lagi” ungkapnya. (*)

APA KABAR BEM FMIPA UNM ?

Reporter: Theodorus K Tokan
BIOma, Parangtambung-Isu yang beredar dikalangan mahasiswa nampaknya BEM FMIPA UNM vakum dan sekretariat selalu terlihat sepi pengunjung dalam arti pengurus BEM itu sendiri. “Memang isu itu benar adanya” sahut salah satu pengurus dari BEM (HSN) selaku ketua bidang, kefakuman itu semata-mata terjadi karena kesibukan akademik dari mahasiswa pengurus BEM, dan pengurus BEM didominasi oleh mahasiswa angkatan 2012 dan 2011 yang dimana mereka pekan-pekan lalu sibuk dengan akademik masing-masing selain itu rentang pula mahasiwa pulang kampung. 

Namun hal ini tak berlangsung lama, karena PenguruBEM dalam masa menjalankan program kerja yang telah disusun, pada pekan ini akan melaksanakan pelatihan LK-2 yang disebut Intermediate Training 2014 se-Kota Makassar yang bertempat di Gedung LPTQ, Jl.talasapang pada kamis-minggu, 03-06 April 2014.

Pelatihan ini berlangsung secara bertahap yang dimulai dari LK-1 pada tingkat jurusan kemudian dilanjutkan dengan LK-2 ditingkat fakultas yang sementara akan dilaksanakan dan terakhir pada tahap LK-3  ditingkat universitas. Rencananya pembukaan pelatihan ini akan dilaksanakan pada hari kamis sore (3/4) kemudian akan dilanjutkan dengan penyampaian materi dari beberapa pemateri yang telah di koordinir sebelumnya. Peserta yang akan mengikuti pelatihan ini terdiri dari utusan himpunan se-MIPA UNM lebih luas lagi pelatihan ini diperuntukkan untuk mahasiswa se-Kota Makassar. Sama halnya dengan kegiatan pelatihan lain peserta diluar MIPA dikenakan kontribusi sebesar Rp 30.000 per-kepala, namun pada internal MIPA tidak dipungut biaya (gratis).

“Kegiatan ini diharapkan berjalan dengan lancar dan sukses dan sekiranya mencapai target yang telah direncanakan sebelumnya, dan diharapkan kegiatan ini di ikuti oleh banyak peserta. Mudah-mudahan para peserta dapat dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan mengaplikasikannya sehingga bisa menjadi salah seorang yang akan membawa perubahan”, ungkap Hasan selaku pengurus BEM FMIPA UNM .

HIMABIO FMIPA UNM